Up to date
Home » Islami » TUGAS KITA SETELAH RAMADHAN

TUGAS KITA SETELAH RAMADHAN

TUGAS KITA SETELAH RAMADHAN


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اللهُ أَكْبَرُ  9x
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
لَا إِلَهَ إِلّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلّا إِيّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْن، وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْن، وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْن. لَا إِلَهَ إِلّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ،
لَا إِلَهَ إِلّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْد.
إِنّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا، أَشُهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، اللّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن،
أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِالتَّقْوَى فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى
قَالَ اللهُ سبحانه وتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْز، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ الله الرَّحْمنِ الرَّحِيْم: ((يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون)) (آل عمران 102)
 Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullâh.
 Marilah kita memanjatkan puji dan syukur kita kepada Allah SWT atas segala karunia dan rahmat-Nya. Pagi hari ini kita bersama-sama dapat melaksanakan shalat idul fitri setelah sebulan lamanya menunaikan ibadah puasa Ramadhan dan meramaikan hari-harinya dengan amalan-amalan nafilah. Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan mulia yang penuh berkah tersebut. Semoga pula Allah mempertemukan kita kembali dengan bulan Ramadhan pada tahun depan.
Jama‘ah shalat Idul Fitri yang berbahagia.
Bulan Ramadhan yang baru saja berlalu dari hadapan kita ibarat sebuah madrasah. Madrasah ini mendidik orang-orang mukmin agar menjadi pribadi yang bertakwa. Sebab, takwa adalah bekal terbaik untuk menjalani hidup di dunia dan akhirat. Allah berfirman,
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. (Al-Baqarah: 183)
Kita yang telah menjalankan ibadah di bulan Ramadhan adalah alumni madrasah tersebut. Alumni yang baik adalah alumni yang selalu mengingat-ingat madrasahnya dan menyadari jika ia mempunyai tugas setelah kelulusannya. Sebagai alumni madrasah Ramadhan, tugas kita adalah mewujudkan nilai-nilai takwa dalam kehidupan pasca-Ramadhan, baik kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun umat.
Allâhu akbar, Allâhu akbar, Allâhu akbar, wa lillâhil hamd.
Ma‘asyiral Muslimin hayyâkumullâh.
Dalam beberapa waktu akhir ini, umat Islam di negeri Indonesia mengalami berbagai bencana dan musibah. Pada bulan Ramadhan ini, bencana banjir dan tanah longsor melanda beberapa daerah di tanah air kita, seperti Soloraya, Purworejo, Kebumen, Banjarnegara, dan Pasuruan. Banyak saudara kita terpaksa makan sahur dan menjalankan puasa di tempat pengungsian. Di Purworejo, Kebumen dan Banjarnegara, musibah banjir dan tanah longsor bahkan telah menelan korban. Puluhan orang meninggal dan hilang. Sementara itu, satu bulan sebelum Ramadhan, saudara-saudara Muslim kita di Luar Batang Jakarta harus kehilangan tempat tinggal mereka. Rumah mereka telah dihancurkan atas perintah gubernur Jakarta.
Musibah duniawi ini belum seberapa berat jika dibandingkan dengan musibah yang menimpa agama kita di negeri ini, negeri yang konon mayoritas penduduknya Muslim, bahkan jumlah muslimnya terbanyak di seluruh dunia. Apabila Ramadhan datang, sudah semestinya orang yang tidak berpuasa menghormati orang yang menjalankan ibadah puasa. Akan tetapi dalam dua tahun terakhir, budaya yang sudah berjalan bertahun-tahun ini digugat. Orang yang berpuasa diminta untuk menghormati orang yang tidak berpuasa. Orang berpuasa dituduh manja dan gila hormat. Menghormati orang yang tidak berpuasa bahkan dipandang sebagai cara mendapatkan kualitas puasa yang super. Demikianlah cara berpikir setan.
Musibah lain yang menimpa agama kita di negeri ini adalah krisis loyalitas. Umat hari ini banyak yang bingung dalam memilih pemimpin. Kebingungan ini dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kepentingan mereka. Dalam beberapa bulan ini, seorang China kafir dengan berdandan mirip kyai mendatangi pesantren-pesantren untuk meminta dukungan bagi partai yang didirikannya. Di pesantren-pesantren itu, ia disambut dengan meriah. Ia memberikan ceramah, bahkan ikut acara buka puasa bersama.
Sungguh, musibah yang menimpa agama kita jauh lebih berbahaya daripada musibah yang menimpa dunia kita. Allah SWT berfirman,
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Peliharalah diri kalian dari bencana yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Al-Anfal: 25)
 Ibnul Jauzi menafsirkan fitnah (bencana) dalam ayat ini di antaranya adalah kesesatan dan mendiamkan kemungkaran.
Allâhu akbar, Allâhu akbar, Allâhu akbar, wa lillâhil hamd.
Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullâh.
Dengan bekal takwa yang telah kita bina di bulan Ramadhan, kita mempunyai tugas untuk memperjuangkan agama dan umat kita. Kita tidak mungkin membiarkan agama kita terus-terusan dihina dan umat kita senantiasa direndahkan. Lantas, bagaimana kita mesti memperjuangkan agama dan umat kita? Imam Malik rahimahullâh berkata,
لا يصلح أمر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها
 Urusan umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan mengikuti apa yang membuat generasi awal mereka menjadi baik.
 Ibnul Qayyim Al-Jauziyah merumuskan langkah-langkah perjuangan yang harus dilakukan umat Islam dengan cukup baik dalam kitabnya, Zâdul Ma‘âd fî Hadyi Khairil ‘Ibâd. Beliau menyebut langkah perjuangan tersebut dengan istilah jihad. Menurutnya, ada empat tingkatan jihad yang harus dilakukan kaum Muslimin.
 Tingkatan pertama adalah jihâdun nafsi (jihad melawan nafsu). Nafsu yang harus dilawan adalah nafsu yang menjerumuskan orang ke dalam kebodohan. Oleh karena itu, Ibnul Qayyim merinci jihâdun nafsi ini ke dalam empat tingkatan. Pertama, berjuang dalam mencari ilmu agar mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang halal dan mana yang haram, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana petunjuk dan mana kesesatan. Kedua, berjuang dalam mengamalkan ilmu. Ilmu yang tidak diamalkan tidak membawa manfaat, bahkan bisa mendatangkan bencana dan kerugian. Ketiga, berjuang dalam mendakwahkan ilmu, yaitu dengan mengajari orang yang tidak tahu. Orang yang menyembunyikan ilmunya diancam Allah dengan siksa pedih pada hari kiamat. Keempat, berusaha bersabar dalam menghadapi rintangan di jalan dakwah.
 Tingkatan kedua adalah jihâdusy syaithân (jihad melawan setan). Setan adalah musuh abadi manusia yang selalu berusaha menyesatkannya. Oleh karena itu, setan harus dilawan. Jihad melawan setan mempunyai dua tingkatan. Pertama, berjuang menolak syubhat dan keragu-raguan yang selalu dihembuskan terhadap keimanan kita. Untuk itu, kita harus menanamkan keyakinan dalam hati kita. Keyakinan ini harus dibangun dengan ilmu. Kedua, berjuang menolak syahwat yang dibisikkan ke dalam keinginan jiwa kita. Untuk menolak syahwat, kita harus menamkan kesabaran. Membangun keyakinan dan kesabaran sebenarnya adalah bagian dari jihâdun nafsi. Dengan kata lain, jihâdun nafsi adalah kunci suksesnya jihâdusy syaithân.
 Jama‘ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah.
Tingkatan ketiga dan keempat adalah jihâdul kuffâr wal munâfiqîn (berjihad melawan orang-orang kafir dan munafik). Kita hidup di lingkungan yang beragam. Dalam lingkungan itu, ada orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Orang-orang kafir memang tidak satu macam. Ada orang kafir yang bisa hidup damai berdampingan dengan umat Islam. Ada pula orang kafir yang memusuhi dan berusaha menghancurkan Islam. Sementara itu, semua orang munafik pasti ingin menghancurkan Islam. Sebab, sejatinya orang munafik adalah orang kafir yang menyembunyikan kekafirannya dan menampakkan keislaman karena ingin memperdaya kaum Muslimin atau ingin mendapatkan keuntungan tertentu. Islam mengajarkan keadilan terhadap umatnya, termasuk adil dalam menyikapi orang-orang kafir. Oleh karena itu, Ibnul Qayyim merinci jihâdul kuffâr wal munâfiqîn ke dalam empat tingkatan.
Pertama, jihad melawan mereka dengan hati. Jihad ini dilakukan dengan mengingkari dan tidak menyetujui keyakinan dan pemikiran kufur mereka dengan hati kita. Islam membolehkan umatnya bermuamalah dengan orang-orang kafir, namun Islam dengan tegas melarang umatnya mengakui kekufuran mereka. Allah berfirman,
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. (Al-Kafirun: 6)
 Kedua, jihad melawan mereka dengan lisan. Jihad ini dilakukan dengan menjelaskan kerusakan keyakinan kufur kepada mereka. Jihad ini juga dilakukan dengan melawan propaganda lisan yang dilakukan mereka terhadap Islam dan umatnya dengan menggunakan propaganda lisan serupa.
 Ketiga, jihad melawan mereka dengan harta, yaitu dengan mengorbankan harta kita dalam melawan usaha orang kafir yang ingin menghancurkan Islam.
 Keempat, jihad melawan mereka dengan jiwa. Apabila mereka mengancam jiwa kita, bahkan memisahkan jiwa dari raga kita, maka umat Islam harus menghadapi mereka dengan kekuatan yang setimpal. Hutang nyawa mesti dibayar dengan nyawa.
Allâhu akbar, Allâhu akbar, Allâhu akbar, wa lillâhil hamd.
Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullâh.
 Langkah-langkah perjuangan yang dirumuskan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah adalah langkah perjuangan yang komprehensif. Perjuangan itu meliputi usaha untuk memperbaiki diri dengan menanamkan ilmu dan amal, memperbaiki keluarga dan masyarakat dengan dakwah mengajak pada kebaikan, serta usaha melindungi perbaikan tersebut dari segala ancaman yang datang dengan cara yang proporsional.
 Kita hidup di negeri dengan mayoritas penduduknya Muslim. Kita hidup di negeri yang telah dibebaskan oleh para pendahulu kita dari cengkeraman penjajah dengan pengorbanan jiwa dan raga mereka. Negeri ini merupakan warisan berharga pendahulu kita yang mesti kita jaga dan perjuangkan. Sangat menyedihkan apabila hari ini kita menjadi pihak yang sering dilecehkan dan dipermainkan di negeri sendiri. Semoga dengan pembinaan jiwa selama Ramadhan kemarin kita bisa melakukan perbaikan untuk diri, keluarga, masyarakat dan bangsa kita. Aaamin.
 للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى ألِ إِبْرَاهِيْمَ ِفي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَّللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وْالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِى دِينِنَا وَدُنْيَانَا وَأَهْلِنَا وَمَالِنَا اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا اللَّهُمَّ احْفَظْنِا مِنْ بَيْنِ أيَدينَا وَمِنْ خَلْفِنَا وَعَنْ يَمِينِنَا وَعَنْ شِمَالِنَا وَمِنْ فَوْقِنَا وَنعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ نُغْتَالَ مِنْ تَحْتِنَا
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
 

About Progressive-edu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
}

Copyright © 2014 Hono Joe. All Rights Reserved.


Educational Site by Hono Joe